Distance Is Made

Hallo teman-teman blogger, udah cukup lama aku gak nulis blog, and i new come back to write blog about short story... lebih tepatnya cerita mini sih, tapi ini bukan serita aku loh yaa, aku cuma menulis fiksi mini. hm, langsung aja ya.

⤓⤓⤓
Distance Is Made
Aku termenung di sebuah cafe, ditemani dengan secangkir cappucino hangat kesukaanku dan seorang sahabatku yang bernama Siska. Hari yang indah berubah menjadi gelap, pancaran kilat dan petir pun mulai terdengar. "Sepertinya akan hujan." Ucap Siska. Aku tidak menjawab apa pun. "Udah lah win, jangan menyiksa diri sendiri. Sampai kapan kamu akan seperti ini?" Ucap Siska dengan menatapku penuh harap.
Sampai detik ini aku masih memikirkannya. Dia yang selalu meneleponku, menemuiku, menemaniku, mengajakku jalan-jalan, mengucapkan selamat pagi dan selamat malam, ada di saatku membutuhkannya, dan mencari-cariku di saat aku tidak ada kabar. Aku sangat merindukannya. Dalam benakku aku selalu bertanya. "Apakah dia juga merindukanku?". "Ah tentu saja tidak, jika dia merindukanku dia pasti menghubungiku terlebih dahulu." Jawab pikiranku sendiri.
Sudah lebih dari seminggu kami tidak berkomunikasi dan bertemu, padahal tempat tinggal kami cukup dekat. Waktu itu kami berkelahi hebat dan berdebat sampai mengungkit-ungkit masa lalu. Menurutku masalah ini tidak terlalu besar, ini hanyalah salah paham. Tetapi, saat kami berkelahi kami tidak ada mengucapkan kata putus karena dari memulai hubungan, kami berkomitmen jika kami berkelahi sehebat apa pun kami tidak akan mengucapkan kata putus.
Waktu itu aku tidak memberikan kabar kepadanya dan aku tidak mengangkat telepon darinya. Aku sedang mengerjakan tugas kuliah bersama teman laki-laki sekelasku di sebuah cafe. Tiba-tiba dia muncul di belakangku dan langsung menampar temanku di depan banyak orang. Terlihat jelas dari matanya yang sangat merah dan raut wajahnya yang penuh emosi menandakan bahwa dia sangat marah kepadaku, aku pun menariknya keluar dan memarahinya karena dia telah berkelakuan seperti itu. Karena aku juga terpancing emosi, kami pun berkelahi dan aku tidak menjelaskan sedikit pun kejadian yang sebenarnya. Hingga akhirnya ia pun pergi dari cafe itu sambil mengucapkan "Terserah saja kau mau gimana, aku tidak perduli lagi!"

Sebenarnya aku ingin sekali meneleponnya terlebih dahulu. Tapi perasaan gengsiku ini lebih besar dipandingkan dengan rasa bersalahku terhadapnya. Jika aku seperti ini terus-menerus, aku tidak hanya menyakitinya tetapi aku juga akan menyiksa diriku sendiri. "Win, saran aku sih kamu hubungin aja dia, ajak ketemuan, jelaskan bagaimana kejadian yang sebenarnya, biar kalian bisa baikan lagi. Di luar sana banyak orang yang ingin bertemu dengan kekasihnya tetapi tidak bisa karena terhalang jarak, ada juga pasangan yang bertengkar dan ingin menyelesaikannya secara tatap muka tetapi tidak bisa karena LDR. Sedangkan kau, jarak yang dekat saja masih tetap tidak mau menyelesaikannya. Sudahlah, hilangkan saja gengsimu itu." Ucap Siska sambil membujukku. Setelah aku mendengar saran Siska, dan aku pun langsung mengirim pesan kepadanya. "Hai, apa kabar?" 2 menit kemudian dia pun membalas pesanku. "Baik." Balas dia dengan singkat. "Lagi ngapain? Ketemuan yuk." Balasku lagi. "Maaf Wina, aku tidak bisa." Balasnya. "Kenapa? Lagi sibuk ya" balasku lagi, aku pun menunggu pesanku untuk dibalasnya, sekitar 7 menit setelah aku mengirim pesan, kemudian dia membalas pesanku. "Aku sudah terbiasa tanpamu, kau telah mengajarkanku hidup tanpa adanya dirimu. Kemana saja kau selama seminggu ini? Kenapa kau baru saja menghubungiku? Sadarkah kau? Bukan jarak yang membuat kita jauh tapi kau lah yang membuat kita berjauhan, kau yang memberikan jarak kepada hubungan ini. Kau harus tau bahwa aku sangat mencintaimu, tapi aku tidak terima cintaku untukmu kau permainkan seperti ini, dari dahulu aku sudah sabar dengan sikap dan tingkah lakumu, kau bersenda gurau dengan lelaki lain di belakangku. Apakah ku tidak memikirkan perasaanku? Tahu kah kau bahwa aku cemburu? Berpuluh-puluh kali aku meneleponmu tapi tidak kau angkat, aku mengirim pesan tidak kau balas... Apa kah waktu selama 2 tahun ini tidak cukup untuk membuatmu mengenaliku? Mungkin kau akan lebih bahagia jika tidak bersamaku.  Biarkan lah hati ini mencari tempat yang cocok untuk dia beristirahat, meluapkan amarahnya kepada hati yang lain, mencari cinta yang menerima dia apa adanya. Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu dengan kata-kataku, tetapi inilah yang harus kau tahu, dan terimakasih selama 2 tahun ini kau telah meluangkan waktu berhargamu untukku. Tapi tidak dengan cintamu."
Setelah membaca pesan darinya aku langsung menangis. Tanganku pun bergetar saat ingin membalasnya "Sayang, kamu salah paham, aku mau jelasin semuanya, kita ketemu dulu ya. Aku tidak bermaksud memberi jarak untuk hubungan kita. Kau masih ingat kan dengan komitmen kita dari dulu? Aku juga sangat mencintaimu." Balas ku. "Maaf, aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini. Ya aku masih ingat dengan komitmen itu, tapi kau telah menghancurkannya." Balasnya. Aku hanya menangis membaca pesan darinya, aku tidak dapat berbuat apa pun. Dia sudah tidak percaya lagi denganku.

Comments

Popular posts from this blog

Perbedaan Pendidikan Fisika dan Fisika Murni

Pengalamanku Selama Berkuliah di Fisika Murni

Suka Duka Selama Merantau